Ingin Lancar Menulis, Intimlah Dengan Catatan

Oleh : Winarto

Kata “intim” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “akrab, karib atau rapat” sehingga merujuk pada hubungan yang sangat akrab, karib dan akrab pada sesuatu. Dengan demikian, tulisan ini akan menjabarkan betapa sangat penting sebuah catatan terutama berkaitan dengan kegiatan menulis.

Mengapa catatan begitu sangat berharga sehingga seseorang harus bergaul intim dan akrab dengannya? Menulis adalah sebuah proses perumusan dan pengorganisasian ide-ide sehingga menjadi sebuah kesatuan. Dalam proses menyusun sebuah tulisan, berbagai sumber sangat diperlukan untuk menghasilkan sebuah ide tulisan yang memiliki koherensi dan konsisten. Dengan alasan tersebut, catatan dapat membantu merangkai gagasan yang tercerai-berai menjadi sebuah tulisan yang utuh.

Selain itu, beragam pengalaman dalam kehidupan sehari-hari seringkali menjadi sebuah bahan sebuah tulisan. Pengalaman berada di tempat kerja, perjalanan, pusat perbelanjaan dapat dijadikan materi sebuah tulisan. Tidak jarang, sebuah ide akan muncul begitu saja sehingga harus lekas dicatat agar ide-ide tersebut tidak hilang dan terlupakan.

Bagi seseorang yang berprofesi sebagai seorang penulis atau wartawan, catatan ibarat sebagai salah satu senjata yang selalu dibawa kemanapun dia pergi. Tujuannya tidak lain adalah merekam dan mendokumentasikan setiap peristiwa hingga mencatat setiap detail data dan informasi dari narasumber atau peristiwa yang terjadi.

Namun, kegiatan mencatat tersebut bukan hanya menjadi konsumsi seorang penulis saja. Semakin berkembang kegiatan ngeblog atau citizen journalism, catatan sangat dibutuhkan sebagai alat untuk membantu seseorang dalam menyusun sebuah tulisan.

Continue reading

Tips Kehilangan Anak di Tempat Ramai

Saya ingin berbagi tentang tips jika kehilangan anak di tempat ramai. Ini dari pengalaman yang diperoleh anak saya yang masih berusia delapan setengah tahun, ketika terhilang di tempat yang masih asing dan penuh keramaian. Jelas bahwa kita tentu tidak menginginkan kejadian anak kita terhilang dan terpisah dari kita, apalagi jika tempat itu sangat asing karena bahasa yang berbeda. Tetapi itulah yang dialami anak perempuan saya ketika terhilang di suatu tempat keramaian di Singapura.

Pertama, kita harus antisipatif terhadap kemungkinan anak kita terpisah suatu ketika dalam kejadian yang tidak terduga. Antisipasi apa yang bisa dilakukan? Pelajaran penting yang harus diajarkan dengan baik kepada anak kita adalah: mengingat nama orang tuanya secara lengkap, mengingat nomor telepon dan alamat rumahnya. Jangan menyepelekan hal ini. Ketika anak saya terhilang di singapura itulah, daya ingatnya akan nama orang tua dan nomor teleponnya sangat membantu ketika ia ditemukan oleh petugas setempat.
Continue reading

Mengelola Konflik di Tempat Kerja

Konflik yang terjadi di tempat kerja sangatlah merugikan. Karena konflik ini berdampak banyak terhadap diri kita, rekan kerja kita, dan bagi organisasi. Hubungan kita dengan rekan kerja menjadi renggang, gampang curiga, dan muncul ketidakpercayaan. Jika ini terjadi maka komunikasi dengan rekan kerja akan menjadi sulit dan banyak hambatan dan bisa diduga kerja menjadi tidak maksimal.

Konflik juga membuat terjadinya ketidakseimbangan hidup kita, yaitu ketidakseimbangan individu dan sosial serta batin dan hati. Orang yang terlibat konflik akan menjadi pribadi yang egois, mementingkan diri sendiri, tidak bisa bekerja sama dengan orang lain, penuh tekanan, dan tidak bersemangat dalam bekerja. Dampak berantai ini jelas sangat merugikan organisasi tempat kita bekerja, karena kinerja organisasi secara keseluruhan akan menurun.

Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya konflik di tempat kerja, antara lain: perbedaan karakter, persaingan kerja, perbedaan kepentingan kelompok, kepemimpinan dalam organisasi dan sebagainya. Mengidentifikasi akar masalah konflik akan membantu kita mengelola konflik di tempat kerja kita, sekaligus membantu kita menjadi pribadi yang lebih dewasa, matang, dan profesional di tempat kerja. Continue reading

Melayani Dalam Bisnis

“Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia” (Kolose 3:23 BIS).

Kebanyakan orang Kristen sering memandang dunia bisnis sebagai dunia yang “kotor”, sama seperti pandangan terhadap dunia politik. Secara tegas, pandangan ini membagi  kehidupan orang Kristen kedalam wilayah sakral dan wilayah sekuler. Konsekuensi dan implikasi dari pandangan ini sangat luas. Bukan saja karena ruang lingkup dan gerak orang Kristen yang semakin dipersempit, tetapi juga mengaburkan dan mendangkalkan makna dunia bisnis seolah-olah sebagai sebuah aktivitas yang tidak bermakna dan tidak berkorelasi dengan panggilan kita sebagai orang Kristen. Continue reading

Tanpa Pancasila, Kita Bukan Indonesia (Tentang Pilar Bangsa I)

Oleh : Riedno  G. Taliawo

“Menjadi diri sendiri”, adalah penyataan umum yang sering kita dengar. Selain itu, ada kata lainnya, yakni “penerimaan diri”. Dua ungkapan ini harus dilakukan, jika seseorang ingin aman dengan diri sendiri, dan mengembangkan potensi diri untuk maju.

Manusia adalah makhluk yang terlahir tidak sempurna dan berbeda-beda. Itu realitanya: ada keunikan. Ada orang terlahir dengan kualitas suara yang indah nan baik didengar. Ada yang hadir dengan potensi menghitung, menganalisa, memimpin, berkomunikasi, bertekun, dll. Dan ada pula yang terlahir dengan keistimewahan tubuh tertentu. Akan tetapi, realita hidup tidak hanya itu. Ada kondisi sebaliknya yang terjadi.

 Kondisi berbeda ini menjadi masalah tatkala disikapi dengan cara pandang “membandingkan”, dan bukan cara pandang “berbeda atau unik”. Cara pandang membandingkan melahirkan sikap minder bagi yang dikategorikan berkekurangan. Akibatnya, yang dianggap berkekurangan memaksa diri menjadi orang lain yang dinilai lebih baik. Sayangnya, kita tidak mungkin menjadi orang yang dianggap lebih baik itu. Mungkin sedikit terlihat sama, namun kualitas diri tetaplah berbeda. Sikap ingin menjadi orang lain, berpotensi menjadikan kita manusia tidak bersyukur, disamping menjadi serba tanggung. Tanggung, karena kita tidak memaksimalkan potensi unik pemberian Sang Khalik yang ada dalam diri kita. Kita lebih sibuk, dan dengan rasa iri, mencondongkan diri berkembang seperti orang lain yang kita anggap lebih baik itu.

Continue reading

Menjadi Pekerja Yang Bermisi Di Sektor Swasta

Oleh: Sigit B. Darmawan

Nilai Strategis Bekerja Di Sektor Swasta:

Bekerja di sektor swasta adalah sebuah kesempatan yang memiliki nilai strategis yang berbeda jika dibandingkan bekerja di sektor publik atau sektor negara.

Ada tiga sector yang berperan dalam pembangunan Indonesia. Yaitu, sektor negara atau publik, sektor swasta, dan sektor kemasyarakatan. Ketiga sektor ini memiliki karakteristik dan nilai strategis masing-masing yang saling mendukung dan menunjang dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Continue reading

Menahan Diri

Kemampuan mengelola emosi adalah kualitas kritikal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Semakin tinggi level seorang pemimpin, semakin tinggi tuntutan akan kemampuan mengelola emosi tersebut. Hal ini terkait dengan dampak yang akan ditimbulkannya. Apa jadinya jika seorang pemimpin tidak mampu menahan diri, tidak mampu menganalisa sebuah masalah secara tenang, dan hanya berespon dengan emosi? Hanya kekacauan yang terjadi.

Pelajaran itu yang saya petik, ketika beberapa saat lalu saya terpaksa berurusan dengan salah seorang petinggi militer terkait dengan peristiwa kecelakaan lalu lintas antara mobil saya dengan mobil yang dikendarainya.
Continue reading

Integritas Seorang Ani

Oleh: Sigit Darmawan

Ani, panggilan akrab Sri Mulyani, menjadi pusat perhatian masyarakat dalam beberapa bulan terakhir ini. Sejak kasus Century dibahas dalam pansus DPR, Ani tersandera secara politis oleh parlemen yang menganggap Ani sebagai pejabat yang bertanggungjawab atas kebijakan talangan bank Centrury. Oleh parlemen kebijakan tersebut dianggap sebagai kebijakan yang bermasalah. Dan karenanya Ani harus menjalani proses pertangungjawaban secara politis dan hukum.

Publik mengenal Ani sebagai seorang professional yang diakui integritasnya, tegas dalam bersikap, dan seorang reformator birokrasi di depkeu. Integritas pribadinya membuat gentar orang-orang yang tidak suka kepentingannya diusik. Dan karenanya ada upaya untuk menyingkirkannya.

 Walaupun Ani belakangan mendapatkan dukungan dari publik, namun kekuatan dukungan tersebut belum mampu menopang “ketersingkiran”nya dari jabatannya. Cepat atau lambat, Ani akan tersingkir.

Continue reading