Sigit Budi Darmawan

Pertumbuhan Diri

July 29, 2009 · Leave a Comment

“Life is not advancement. It is growth. It does not move upward, but expands outward, in all directions.” (Russell G. Alexander , Father, Human Being, Recovering Philosopher, 1954)

Kalimat diatas sangat menarik jika kita ingin berbicara tentang pertumbuhan diri (Personal Growth), karena pertumbuhan diri hakekatnya adalah sebuah pengembangan kualitas hidup dalam semua aspek yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Pertumbuhan di satu aspek hidup, akan mendorong pertumbuhan di aspek yang lain. Karena itu pertumbuhan diri haruslah dipahami dan dihayati sebagai sebuah hidup yang ter-integrasi. Bukan terpisah-pisah.

Manusia harus berkembang dan bertumbuh. Kapabilitas dan kapasitasnya harus terus-menerus diasah untuk membuatnya mampu memberdayakan kehidupannya dan alam sekitarnya menjadi berkualitas.

Alkitab mengajarkan beberapa prinsip penting tentang filosofi dan landasan dalam proses pertumbuhan diri. Pertama, bahwa pertumbuhan diri itu adalah sebuah proses transformasi hidup. Roma 12 menjelaskan tentang panggilan untuk perubahan melalui pembaharuan akal budi dan pikiran sehingga manusia mempunyai kapabilitas untuk membedakan hal yang benar dan tidak benar, baik dan tidak baik. Transformasi yang dimaksudkan haruslah mendorong perubahan kualitas hidup manusia.

Keep reading →

→ Leave a CommentCategories: Kepemimpinan dan Manajemen · Refleksi
Tagged: , , ,

Menyikapi Krisis Global

July 26, 2009 · Leave a Comment

Oleh: Sigit B.Darmawan *)

 Pendahuluan

 “When written in Chinese, the word “crisis” is composed of two characters-one represents danger, and the other represents opportunity” (John Fitzgerald Kennedy, American 35th US President)

 

Krisis keuangan global yang sekarang kita hadapi ini dipicu oleh krisis financial sub prime mortgage di Amerika Serikat yang mengakibatkan runtuhnya berbagai perusahaan besar, seperti: Lehman, General Motor, Citicorp, Merryl Linch dan Bank of America

Krisis ini berkembang menjadi krisis global yang dampaknya terjadi tidak hanya di Amerika, tetapi juga di seluruh dunia. Dunia kita terhubung satu dengan lainnya, seperti mata rantai. Peristiwa di satu tempat akan berpengaruh kepada peristiwa  di tempat lain. Dan ada kalanya dampaknya jauh lebih bersar dibanding dengan tempat ketika krisis itu mulai terjadi.

Krisis keuangan 1998 yang dipicu dari jatuhnya mata uang di Thailand, berimbas kepada Indonesia. Dan negara kita menghadapi dampak terparah dari krisis tersebut. Bukan hanya di sektor ekonomi, tetapi juga kehidupan social, politik, dan hukum. Kerusuhan SARA, jatuhnya Suharto, pengangguran masif, ambruknya perbankan, pelanggaran HAM, dan sebagainya..

Krisis global yang  sekarang dihadapi oleh dunia, sudah terasa dampaknya.  Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan jumlah pengangguran di seluruh dunia akan bertambah 20 juta orang sepanjang tahun 2009 ini.. Di Indonesia, angka pengangguran diperkirakan meningkat menjadi 8.87 %.

Keep reading →

→ Leave a CommentCategories: 1357049

Menjadi Pekerja Yang Bermisi dan Profesional

July 26, 2009 · 1 Comment

*) Oleh: Sigit B. Darmawan

Pendahuluan

”TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kejadian 2:15).

”Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan” (Efesus 4:28)

Bekerja adalah sebuah karunia dan panggilan. Ia melekat dalam natur dan jiwa manusia sejak diciptakan  Allah, untuk mengusahakan dan memelihara taman dan menjalankannya secara seimbang. Manusia di beri akal budi dan kemampuan untuk menjadi pengelola yang baik dalam tugas tersebut. Keep reading →

→ 1 CommentCategories: Kepemimpinan dan Manajemen

Change or Die

February 28, 2009 · 1 Comment

Saya membaca sebuah buku yang menarik dari seorang penulis senior Malajah Fast Economy, Alan Deutschman, yang berbicara tentang proses perubahan dan bagaimana kita bisa melakukannya. Baik dalam konteks pribadi, organisasi, bisnis, dan masyarakat.

“Change or Die” mengulas tentang tiga kunci penting yang harus dilakukan agar perubahan bisa terjadi dalam individu dan organisasi. Ketiga kunci penting itu dinamakan ” 3 R : Relate, Repeat, Reframe”.

Ketiga kunci ini akan membantu kita untuk membuat perubahan-perubahan positif yang diperlukan baik bagi setiap individu , organisasi bisnis, komunitas, maupun sosial. Alan Deutschman menyatakan bahwa pada dasarnya setiap orang bisa dan mampu untuk melakukan perubahan-perubahan secara revolusioner.

Relate — berkaitan dengan upaya untuk membangun sebuah relasi baru, komunitas baru yang memungkinkan perubahan-perubahan yang sedang dilakukan bisa terjadi karena ada: dukungan, motivasi, dorongan, teguran, kedisiplinan, dan kebersamaan dari orang-orang yang menjadi bagian dari relasi atau komunitas baru tersebut. Artinya perubahan itu tidak mungkin dilakukan dalam relasi atau komunitas yang lama. Menciptakan relasi baru adalah langkah mendasar untuk memulai perubahan.

Repeat — adalah semangat untuk mengulang kebiasaan, perilaku, maupun ketrampilan yang baru secara kontinu dalam sebuah komunitas yang mendukung perubahan itu. Perubahan pada dasarnya adalah menciptakan kebiasaan baru, perilaku yang baru, memiliki ketrampilan yang baru, cara berpikir yang baru. Karena itu “repeat” adalam kunci untuk memastikan bahwa pengulangan yang konsisten dan kontinu akan mendorong perubahan yang revolusioner dalam setiap individu

Reframe — adalah membingkai ulang proses perubahan yang sudah dilakukan dengan pola berpikir dan bertindak dalam sebuah kerangka yang baru, yang berbeda dengan pola berpikir dan bertindak yang lama. Reframe (pembingkaian ulang) hanya terjadi jika kebiasaan baru, perilaku baru, dan ketrampilan yang baru mulai bisa dikuasai karena pengulangan yang dilakukan dalam relasi yang baru.

Kegagalan dalam melakukan 3 R ini, akan membawa sebuah proses kematian diri kita karena: kita tidak mampu mengembangkan diri secara utuh, terpenjara dalam sebuah pola pikir dan bertindak yang lama, tidak mampu melakukan perbaikan-perbaikan yang dibutuhkan untuk kemajuan, tidak memiliki ketrampilan-ketrampilan baru yang diperlukan untuk memaksimalkan potensi diri kita dan sebagainya. Jadi semestinya tantangannya adalah bukan “Change or Die” tetapi “Change and Strive”.

→ 1 CommentCategories: Resensi Buku
Tagged: ,

Asa

February 4, 2009 · 2 Comments

Masih ada harapan, meskipun langit tampak kelam

Masih ada kehidupan, meskipun berat langkah ini

Akan datang jalan terjal yang penuh misteri

Terasa sulit untuk menguaknya

Akankah berakhir disini?

Tidak

Jalan panjang dan terjal tetap harus dilalui

Rintihan kepedihan harus dinikmati

Keringat dingin biarlah meleleh di sekujur tubuh

Namun dalam kemisterian, tetaplah ada harapan

Berjalanlah dengan tegar, meski harus tertatih

Tersenyumlah meski ada kepahitan

Tetaplah menatap kedepan, meski  yang tampak hanyalah kekosongan

Asa membangkitkan kekuatan

Kan kujemput bila sudah sampai waktunya.

→ 2 CommentsCategories: Refleksi

Selamat Untuk Obama

January 21, 2009 · Leave a Comment

Barrack Hussein Obama telah dilantik menjadi presiden Amerika Serikat yang ke-44, sekaligus presiden AS pertama dari keturunan Afro-Amerika.  Pelantikan Obama sebagai presiden merupakan simbol pengakuan akan kesetaraan ras dan hak-hak manusia yang menginspirasi seluruh komunitas international. Bahwa manusia tidak bisa dinilai dari warna kulit, agama, keyakinan, maupun suku, namun dari kemampuan dan potensi dirinya. Dan Obama membuktikan itu, sekaligus merealisasikan mimpi dari Martin Luther King akan kesetaraan ras yang selalu menjadi persoalan besar di Amerika Serikat dalam beberapa dekade.

Ekspektasi masyarakat International terhadap Obama sangat tinggi, karena janji perubahan yang diusungnya untuk: menciptakan sebuah tatanan dunia yang baru dengan mereposisi wajah diplomasi Amerika yang semakin tidak disukai di tataran kehidupan global karena kebijakan-kebijakannya, menjadi sebuah “New America” yang lebih bersahabat. Wajarlah dunia berharap, karena Obama adalah sebuah simbol yang mewakili keberagaman internasional. Dilahirkan dari pasangan Kenya dan Amerika, pernah tinggal di Asia, dan memiliki nama tengah berbau timur tengah “Hussein”. Karena itu pelantikannya sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44 menyedot perhatian seluruh masyarakat dunia.

Slogan “Yes, We Can”  yang menjadi ikon perubahan yang diusungnya selama masa kampanye menjadi trendsetter dalam berbagai proses perubahan di segala bidang. Slogan ini memberikan inspirasi kepada masyarakat, bahwa segala sesuatu mungkin dilakukan, jika ada kebersamaan, kemauan, kerja keras, dan kepercayaan dimanapun dan di situasi apapun. Ya, Obama memang menjadi inspirator dunia saat ini. Selamat untuk Obama!

→ Leave a CommentCategories: Refleksi

Kesetiaan Kepada Nurani

January 3, 2009 · 2 Comments

Ketika saya sedang membaca kembali cerita epos mahabarata-baratayudha, betapa tertegunnya saya ketika mendapati bahwa ada sisi-sisi kebaikan yang terlihat di dalam diri sebagian para kurawa. Namun kebaikan itu terbentur kepada skenario keserakahan mayoritas para Kurawa yang ingin menguasai kerajaan Hastinapura  dengan cara-cara yang tidak jujur, yang sejatinya bukan merupakan hak mereka.

Raden Yuyutsu adalah seorang Kurawa, anak Raja Drestarata, yang memiliki kepekaan nurani ketika kakaknya yang sulung, Duryudana sang Raja Hastinapura, bertindak culas kepada Pandawa dalam permainan dadu sehingga Pandawa terbuang dari kerajaan Hastinapura dan harus mengembara selama tiga belas tahun lamanya. Perasaannya terusik menyaksikan ketidakadilan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya kepada para Pandawa,  yang adalah saudara mereka juga. Keep reading →

→ 2 CommentsCategories: Refleksi

Adakah Kebaikan Dalam Diri Kurawa?

January 2, 2009 · Leave a Comment

Jika kita mengenal cerita pewayangan, khususnya cerita Mahabarata dan Baratayudha, maka kita mengenal dua kelompok yang saling berseteru, berselisih, bersaing, dan akhirnya berperang dalam legenda perang besar di padang Kurusetra untuk memperebutkan kerajaan Hastinapura. Kedua kelompok manusia itu dikenal sebagai Kurawa dan Pandawa.

Pandawa selalu digambarkan sebagai kelompok ksatria berjumlah lima orang yang memiliki: budi pekerti , tatakrama, dan karakter yang luhur, serta berwatak ksatria, penuh tanggung jawab, tidak menindas dan tidak serakah. Walaupun dalam beberapa cerita pewayangan para ksatria Pandawa ini juga memiliki kelemahan dan keburukan–sehingga sering diingatkan oleh para Punakawan– namun cerita tentang kebaikan dan keluhuran budinya jauh lebih  kuat bergema dibanding kelemahannya.

Keep reading →

→ Leave a CommentCategories: Refleksi