Kemampuan mengelola emosi adalah kualitas kritikal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Semakin tinggi level seorang pemimpin, semakin tinggi tuntutan akan kemampuan mengelola emosi tersebut. Hal ini terkait dengan dampak yang akan ditimbulkannya. Apa jadinya jika seorang pemimpin tidak mampu menahan diri, tidak mampu menganalisa sebuah masalah secara tenang, dan hanya berespon dengan emosi? Hanya kekacauan yang terjadi.
Pelajaran itu yang saya petik, ketika beberapa saat lalu saya terpaksa berurusan dengan salah seorang petinggi militer terkait dengan peristiwa kecelakaan lalu lintas antara mobil saya dengan mobil yang dikendarainya.
Semula saya memang bermaksud mengklarifikasi peristiwa kecelakaan yang terjadi, supaya terjadi kejelasan peran masing-masing dalam kecelakaan tersebut. Walaupun saya akui ada kesalahan yang saya perbuat, namun saya juga melihat ada kontribusi dari orang itu yang menyebabkan terjadinya peristiwa kecelakaan tersebut.
Namun bukan diskusi dan percakapan yang baik yang saya terima, melainkan berbagai umpatan, makian bahkan ancaman yang sangat kasar diperlihatkan oleh orang itu kepada saya. Walaupun saya mencoba mengajak diskusi dengan cara yang sopan dan baik, namun berbagai umpatan dan makian terus berhamburan keluar dari mulutnya.
Saya dianggap tidak mau mengakui kesalahan dan tidak bersedia bertanggung jawab. Walaupun saya tegaskan berulang kali bahwa saya pasti bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi, jika permasalahannya sudah jelas.
Karena mengalami kebuntuan untuk berbicara secara baik-baik, saya menawarkan untuk bersama-sama melaporkan peristiwa kecelakaan tersebut ke kantor kepolisian terdekat. Namun arogansinya semakin tidak terkendali. “B*****T! Saya ini perwira militer! Saya tahu aturan! ”, teriaknya. Untuk sesaat saya hanya mampu terdiam. “Pasukan saya bisa bunuh kamu”, teriaknya sambil mencoba memukul muka saya. Namun terluput.
Beberapa orang yang melihat perdebatan dan pertengkaran kami, merangkul dan menasihati saya untuk tidak melanjutkan perdebatan dengannya. “Tidak ada gunanya pak”, kata orang yang merangkul saya tadi sambil berbisik. Saya menurut, karena tidak melihat ruang yang cukup memadai untuk melanjutkan upaya mengklarifikasi kejadian secara proporsional.
Akhirnya saya beriniatif untuk menyelesaikannya segera. Kepadanya saya katakan bahwa saya bertanggung jawab dan akan mengganti semua kerusakan yang diakibatkan oleh peristiwa kecelakaan tersebut. Dan saya beruntung karena di hari-hari berikutnya ketika saya mengurus ke asuransi, dari pihak asuransi bersedia mengganti kerugian tersebut.
Namun dari kejadian itu saya belajar bahwa kemampuan mengelola emosi adalah hal penting yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin, apalagi jika pemimpin itu adalah seorang perwira militer yang memiliki kekuasaan yang mampu melakukan apa saja terhadap setiap orang. Jika tidak, jangan heran terjadi banyak penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan. Dan tentu pelanggaran hak-hak manusia terjadi mulai dari ketidakmampuan seperti ini.











