Awas Lho!

“Awas lho”, teriak anak laki-laki saya kepada saya. Saya tertegun ,mendengar teriakannya itu. Hari libur  kemarin saya memiliki agenda untuk memimpin sebuah acara diskusi alumni. Dan karena itu adalah acara satu hari penuh, maka walaupun hari libur, saya tidak berencana mengajak anak-anak untuk ikut acara tersebut. Tentu akan sangat repot sekali dan membosankan buat anak-anak jika ikut acara diskusi tersebut.

Namun pagi itu, ketika anak laki-laki saya mengetahui bahwa saya bersiap-siap berangkat. Mulailah ia berulah. Ia merengek-rengek minta ikut saya pergi. “Plis”, katanya sambil memohon dengan kedua telapak tangan direkatkan di depan dadanya. Tentu dengan segala pertimbangan diatas, saya masih berusaha membujuknya untuk tidak ikut.

Namun rupanya sulit untuk membujuknya. Ia tetap berkeras untuk ikut. “Ayolah pa, apin mau ikut. Plis”, katanya sambil memohon dengan ucapan yang masih cadel. Saya tidak punya pilihan lain lagi, sehingga saya akhirnya mengijinkannya untuk ikut. “Sana ganti baju dulu ya, papa tunggu di teras”. Namun rupanya anak saya sepertinya tidak percaya dengan ucapan saya, sehingga sambil berjalan ke kamar ia berkata dengan mengacungkan jari telunjuk,”Awas lho”. Seolah takut ditinggal pergi, ketika ia berganti pakaian.

Sejenak saya tertegun. Anak saya mulai sensitif dengan namanya janji. Apakah saya pernah berjanji kepada anak saya dan tidak menepatinya? Selama ini saya berupaya untuk memenuhi janji yang saya buat kepada anak saya. Apakah ada yang saya lupakan?

Beberapa hari ini, ketika dalam suatu obrolan santai, tiba-tiba anak laki-laki saya menyelutuk “papa boong lagi. awas lho!”. Kembali saya kaget, dan segera bertanya “papa boong apa sayang?”. Sambil nyengir, ia berkata “Jam Ben 10″. Barulah saya ingat bahwa memang saya pernah berjanji untuk mencarikan jam Ben-10, tokoh kartun superhero yang sering ditontonnya. Memang saya sudah berupaya mencarinya, namun karena harganya mahal saya membatalkannya. Dan akhirnya janji itupun terlupakan.

Janji adalah sebuah komitmen. Bagi seorang anak kecil sekalipun, janji itu sangat berharga. Jika tidak dipenuhi, kita kita tidak lagi kredibel dimatanya.

****
“Awas lho”. Tantangan itu pula yang harus kita sampaikan kepada para caleg yang akan berlaga di Pemilu 2009 ini.

Ada banyak janji yang terumbar selama kampanye. Terekam dalam berbagai media: televisi, radio, spanduk, poster, pamflet, buku dan lain-lain. Baik tertulis maupun tidak tertulis, disampaikan dalam keadaan sadar maupun dalam kondisi mabuk atau terdesak. Semua tercatat sebagai janji.

Rakyat mencatat janji itu seperti anak saya mencatat janji saya kepadanya. Suatu saat janji itu akan ditagih. Jika tidak dipenuhi, rakyat akan kecewa dan tidak percaya lagi kepada para wakilnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s