Kemiskinan, Pemiskinan, Dan Peran Jemaat

Oleh: Sigit B. Darmawan  

Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari  yang paling hina ini,kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. (Matius 24:45)

Paradoks Kemiskinan

Dalam bukunya yang berjudul “Dibalik Kemiskinan dan Kemakmuran” (Beyond Poverty & Affluence), Bob Goudzwaard dan Harry de Lange mengemukakan beberapa paradoks menarik yang terjadi dalam pembangunan di dunia modern ini.

Pertama adalah paradoks kelangkaan. Pembangunan ekonomi sekarang ini merupakan paradoks antara kekayaan dan kelangkaan. Di tengah-tengah kekayaan ekonomi dunia terjadi kelangkaan yang diakibatkan oleh tidak terdistribusikannya kekayaan dan hasil-hasil proses ekonomi atau produksi secara adil dan merata. Ketika  produksi makanan melimpah di suatu tempat, di tempat lain terjadi kelangkaan bahan makanan dan kelaparan. Krisis bahan makanan dunia yang kita hadapi sekarang ini adalah sebuah gejala paradoksial pembangunan dunia.

Kedua adalah paradoks kemiskinan. Sangat ironi, ketika pembangunan di negara-negara maju, yang ditopang juga oleh proses pembangungan ekonomi di negara-negara berkembang, mampu menciptakan kemakmuran negara-negara tersebut, namun ditempat lain kekayaan itu tidak bisa dinikmati oleh sebagian besar masyarakat dunia. Ketidakadilan distribusi kekayaan dan pendapatan serta eksploitasi ekonomi yang tidak adil menjadi sumber ketimpangan yang luar biasa tersebut.

Kemakmuran ekonomi yang dicapai di jaman modern ini tetap tidak meniadakan kemiskinan di berbagai belahan dunia. “Kemiskinan dan keterbelakangan di Afrika tidak bisa dilepaskan dari kekayaan dan mahkota teknologi yang ada di tempat lain…”kata Yulius Nyerere dari Tanzania ketika menyoroti ketimpangan kemakmuran negara barat dengan negara dunia ketiga. Tiga per empat penduduk planet bumi hanya menikmati seperlima pendapatan dunia. Dan itulah paradoks ketidakadilan ekonomi yang mendorong kemiskinan dunia.

Ketiga adalah paradoks sensitivitas keperdulian. Kemakmuran seharusnya mampu menciptakan kesejahteraan bagi orang lain dan menaikkan harkat dan martabat manusia. Namun nafsu materialisme, hasrat berkuasa, dan jiwa utilitarian menjadikan setiap orang atau pelaku ekonomi yang menguasai akses-akses ekonomi memanipulasi, menghisap, dan memperdayai orang lain untuk kepentingan dan kemakmurannya sendiri.

Inilah situasi dunia yang sekarang kita hadapi. Berbagai ketimpangan penghasilan, kemiskinan, ketidakadilan ekonomi menjadi persoalan serius yang dihadapi oleh dunia. Indonesiapun menjadi bagian dari sebuah praktek pemiskinan terstruktur dari perekonomian global.

 Kemiskinan di Indonesia

Pasca kenaikan harga BBM telah membuat daya beli masyarakat menurun dan kenaikan harga berbagai kebutuhan dasar (makanan, pakaian, papan, pendidikan, dan kesehatan). Pengangguran terus meningkat. Banyak anak-anak tidak mendapatkan pendidikan yang memadai sehingga putus sekolah. Kualitas gizi anak-anak Indonesia semakin memprihatinkan karena ketidakmampuan ekonomi orang tuanya. Jumlah masyarakat miskin dan yang berpotensi menjadi miskin meningkat hingga 108 juta jiwa di Indonesia.

Sementara itu ketimpangan pendapatan dan gaya hidup sangat terasa di kota-kota besar, seperti di Jakarta. Mal-mal masih ramai dikunjungi oleh orang-orang yang hidup  berkecukupan dan menawarkan kelimpahan. Sedangkan di sisi lain, masyarakat kalangan bawah yang menderita paling parah akibat kebijakan kenaikan BBM terus bergelut dengan kebutuhan-kebutuhan dasar. Ketimpangan sosial ini bagaikan api dalam sekam. Solidaritas hanya terjadi diatara sesama kalangan yang setara, tetapi tidak terjadi diantara kalangan masyarakat atas, menengah, dan bawah. Potensi peningkatan kriminalitas tidak terelakkan lagi.

Kemampuan negara dalam mengatasi persoalan kemiskinan yang bersifat masive kurang memadai. Bantuan Langsung Tunai (BLT) bukankah jawaban mujarab untuk memberdayakan masyarakat miskin yang kehilangan akses terhadap sumber-sumber kegiatan ekonomi. Masyarakat miskin memerlukan akses yang memadai atas hak-hak ekonominya. Usaha ekonomi masyarakat miskin harus dilindungi dan tidak tergusur oleh kepentingan yang pemodal besar. Kemandirian masyarakat miskin harus diangkat melalui berbagai program-program ketrampilan yang menjadikannya manusia produktif  dan mampu mengembangkannya dalam usaha-usaha kecil dengan fasilitas kemudahan modal dan insentif oleh negara.

Karena kemampuan negara dalam mengatasi persoalan kemiskinan sangatlah tidak memadai, maka partisipasi dan solidaritas kelompok masyarakat lainnya terhadap kelompok masyarakat miskin tidak terhindarkan, Solidaritas ini kita perlukan jika kita ingin membangun bangsa yang maju dan sejahtera bersama-sama.

Peran Jemaat Dalam Memerangi Kemiskinan

Gereja  tidak bisa melepaskan diri dari persoalan kemiskinan yang sedang kita hadapi. Justru panggilan gereja adalah terlibat secara aktif dalam memerangi kemiskinan dan ketidakadilan.  Orang miskin berarti orang yang berkekurangan, tidak memiliki kemampuan untuk memberdayakan dirinya, dan orang yang lemah. Orang miskin ada karena ketidakadilan yang harus mereka terima akibat kejahatan penguasa atau orang-orang yang memiliki kuasa, dan yang merampas hak-hak yang seharusnya dimiliki. Inilah pemiskinan.

Karena itu panggilan gereja adalah untuk menyuarakan ketidakadilan dan penindasan hak-hak orang miskin.  Gereja hadir untuk berpihak kepada yang lemah, yang tidak berdaya, yang miskin, dan yang terpinggirkan. Jika gereja tidak memiliki keperpihakan kepada yang lemah, maka kehadiran gereja tidak memiliki makna. Kemiskinan harus ditanggulangi supaya manusia mendapatkan keadilan, harkat dan martabatnya sebagai manusia.

Jemaat-jemaat gereja harus didorong dan diajar supaya memiliki kepedulian dan kesetiakawanan terhadap orang-orang miskin. Upaya ini bisa dilakukan dengan memberdayakan jemaat untuk saling membantu dan memperhatikan keadaan ekonomi anggota jemaat dan masyarakat lingkungan sekitar mereka yang mengalami dan merasakan kemiskinan itu.

Program diakonia gereja juga harus mampu mendorong jemaat untuk memiliki compassion atau belas kasihan terhadap penderitaan dan kemiskinan orang lain. Sehingga  jemaat terdorong untuk memikirkan upaya pemberdayaan masyarakat miskin di masyarakat. Solidaritas gereja kepada kemiskinan selama ini hanya terwujud dalam berbagai program diakonia yang bersifat karikatif. Tidak pernah ada upaya yang sistematis dan berkesinambungan untuk memerangi kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat. Apakah karena gereja sering tidak bersedia merepotkan diri untuk urusan kemiskinan? Melihat kemiskinan di sekitar kita, gereja harus bersedia.

Jemaat gereja harus didorong untuk hidup dalam kesederhanaan, sebagai wujud rasa solidaritas gereja kepada orang-orang miskin yang masih belum terentaskan di Indonesia ini. Kesederhanaan itu berarti pula gereja melakukan kritik internal secara terus menerus terhadap berbagai aktivitas dan pelayanannya yang hanya menonjolkan kemeriahan, namun tidak memiliki dampak kepada perubahan sikap dan sensivitas jemaat kepada berbagai persoalan kemiskinan di masyarakat.

Dalam mengatasi persoalan kemiskinan yang sedemikian kompleks dan besar, maka gereja perlu secara proaktif dan rendah diri bersedia bekerja sama dengan umat beragama lainnya untuk menanggulangi kemiskinan. Ini penting agar kehadiran gereja menjunjung harkat dan martabat manusia tanpa membedakan suku, agama dan ras. Inilah panggilan gereja yang utama.

Namun di saat yang sama, gereja perlu terus menerus menyuarakan  kritik profetisnya tanpa pandang bulu terhadap berbagai penyalahgunaan kekuasaan, terjadinya ketidakadilan, terampasnya hak-hak masyarakat, dan terhadap sistim yang menindas dan memiskinkan manusia

Spiritualitas dan religiusitas jemaat  gereja juga harus sampai kepada sebuah  kesalehan sosial,  dimana energi spiritual yang dimiliki jemaat mampu untuk mendorong kepedulian jemaat akan berbagai persoalan kehidupan masyarakat. Spiritualitas seperti inilah yang harus menjadi perhatian gereja dalam membangun kehidupan jemaat. Salib harus dipahami sebagai refleksi atas penderitaan  dan kematian Kristus, namun disaat yang sama pula harus mampu membuka mata dan telinga kita akan penderitaan, kesengsaraan, dan pengharapan manusia akan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Disitulah gereja berperan.

 

5 responses to “Kemiskinan, Pemiskinan, Dan Peran Jemaat

  1. Benedict Agung Widyatmoko

    Dear,
    Memang kalau bicara masalah tepo seliro, agak sulit. “Niatan” membantu yang miskin menjadi bias. Yang miskin bersusah payah berjubel menanti BLT, yang kaya sibuk dengan pencitraan diri di berbagai media hehehe. Ya memang kembali kepada kesadaran kita sebagai warga gereja dan masyarakat untuk dapat lebih sensitif lagi dalam mengolah rasa.

    Sekalian minta maaf karena sudah membingungkan Mas Sigit dengan nama panggilan saya, Ben :)

    Salam gemilang
    BAW

  2. Mas Ben,
    Thanks untuk commentnya. Saya sadar tidak mudah untuk bersikap tepo sliro dalam jaman yang menawarkan konsumerisme gila-gilaan ini.

    Namun menahan diri untuk tidak terjerumus dalam gaya hidup global yang cenderung konsumeris dan hedonis ini harus dilakukan supaya kepekaan terhadap persoalan-persoalan sosial di sekitar kita tetap terperlihara dan terasah dengan baik.

    Salam lebih gemilang,
    Esbede

  3. DONI

    Memang saat ini kemiskinan adalah masalah utama yang dihadapi oleh bangsa indonesia dan peran gereja sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini. gereja bukan hanya sebagai terompet kasih ditengah2 bangsa dan negara tapi sudah sepatutnya itu ditunjukkan dalam tindakan yang nyata. klo kita melihat saat ini kontribusi gereja dalam mengatasi masalah ini masih sangat minim gereja lebih cenderung sibuk dengan urusan pelayanan secara spritualitas atau lebih cenderung pada internal greja saja.Namun, untuk terjun langsung kemasyarakat menunjukkan rasa kasih yang diajarkan oleh yesus kristus blum terlalu nampak, padahal klau dipikir-pikir secara finansial gereja mampu tetapi berkat yang diberikan oleh Tuhan itu jarang kita gunakan untuk berbagi dengan mereka yang miskin.

  4. Bagus sekali tanggapannya, tolong dong sesekali nulis diblog kita : mission-sukses-267.blospot.com

  5. untuk mencapai hal itu sebenarya dibutuhkan seorang pemimin jemaat yang dapat menjadi motor penggerak jemaat.
    indonesia adalah negara yang kaya, tetapi kekayaan tersebut justru membaya bencana bagi masyarakat. namun, sangat disayangkan Jemaat dan Gereja seakan-akan hanya berdiam diri saja. padahal bila kita bercermin pada Yesus Kristus yang hanya seorang diri berani menyuarakan ketidakadilan yang terjadi, bagaimana dengan gereja yang memiliki jemaat jutaan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s