Keluarga saya adalah satu-satunya keluarga, yang beragama kristen di sebuah kampung yang dihuni oleh mayoritas muslim, dan yang tidak memelihara babi. Semua rumah memelihara babi, dan memiliki kandang babi di belakang rumah mereka. Jika sore hari menjelang waktu memberi makan babi-babi, maka hiruk pikuk suara babi di setiap rumah saling bersautan dan menimbulkan kegaduhan yang luar biasa. Dan ketika mandi di sore hari, saya bisa menikmati kegaduhan suara babi-babi tersebut yang sedang diberi makan oleh pemiliknya.
Sebagian besar keluarga-keluarga di kampung saya memelihara babi, karena nilai ekonominya yang tinggi. Babi-babi itu disamping mudah cara memeliharanya, juga cepat besar. Hanya dalam kurun waktu enam bulan anak babi yang masih kecil sudah menjadi besar dan siap untuk dijual. Jika musim menjual telah tiba, maka berdatanganlah truk-truk dari daerah lain seraya membawa “keranjang” berbentuk kapsul dengan anyaman dari bambu untuk membawa babi-babi tersebut.
Perlu dua orang untuk bisa menangkap babi-babi tersebut dan memasukkannya kedalam keranjang. Yang satu memegang keranjangnya dan mengarahkan bagian yang berlubang ke kepala babi, yang satunya lagi berusaha menggiring babi untuk bisa masuk dalam keranjang tersebut. Begitu babi masuk, maka lubang ditutup dengan diikat tali, sehingga hanya kelihatan pantatnya. Setelah selesai, maka keranjang tersebut diikat pada sebatang bambu dan kemudian dipikul oleh dua orang.
Untuk mengangkut babi-babi yang dijual dari kampung saya, biasanya tidak cukup satu hari untuk menyelesaikannya. Saya sendiri tidak tahu babi-babi itu akan dijual kemana dan siapa yang akan mengkonsumsinya. Setahu saya di warung-warung yang ada di sekitar kampong saya tidak ada yang menjual makanan babi secara terang-terangan. Saya hanya sering memergoki orang yang menjual makanan babi di beberapa warung di kampong saya, namun dengan kata sandi tertentu untuk memesannya. Saya tahu yang dimaksudkan adalah makanan babi, karena teman-teman main saya sering membocorkan rahasia itu kepada saya.
Saya sendiri sewaktu kecil beranggapan bahwa makan daging babi itu diharamkan bagi semua orang, termasuk orang Kristen. Karena itu saya tidak pernah mencicipi sedikitpun daging babi sampai saya besar. Namun teman-teman main saya di waktu kecil rupa-rupanya secara diam-diam dan tanpa sepengetahuan orang tuanya ikut mencoba makanan haram tersebut dan selalu bercerita kepada saya tentang kelezatan makanan dari babi tersebut.
Jika babi-babi yang besar itu sudah mulai dijual, maka keramaian dan kegaduhan suara babi-babi di kampung saya waktu sore hari agak sedikit berkurang. Yang tertinggal hanyalah anak-anak babi yang masih kecil. Babi termasuk hewan yang sangat produktif dalam melahirkan anak-anaknya. Sekali lahir bisa sampai sepuluh anak babi, dan dalam jangka tiga bulan berikutnya sudah melahirkan yang anak babi lainnya.
Ayah saya akhirnya tertarik untuk memelihara babi, setelah usaha beternak ayam dan bebek tidak pernah berhasil dengan baik. Ayah saya memulai dengan memelihara dua babi yang masih kecil, dan dibuatkan kandang babi di pekarangan saudaranya yang tidak jauh dari rumah, karena ibu tidak setuju untuk memelihara babi.
Semenjak ayah saya memelihara babi, maka sayalah yang akhirnya sering mendapat tugas dari ayah saya untuk membuat makanan babi dan memberikannya setiap sore. Makanan babi dibuat dari dedak atau katul – sejenis powder yang berasal dari limbah padi yang digiling di mesin penggilingan – dan dimasak dalam kuali besar dengan ditambahkan air dan garam, diaduk sehingga menyerupai bubur. Untuk mengetahui apakah makanan yang dimasak tadi sudah matang atau belum, maka ayah saya mengambilnya dengan sendok dan mencicipinya. Saya sering melakukannya juga, walaupun pada mulanya jijik dan hampir muntah. Setelah matang, barulah dituang dalam ember dan diberi dedaunan papaya. Saya membawa beberapa ember yang penuh dengan bubur makanan babi tersebut ke kandang dan memberikannya kepada babi-babi saya.
Hal yang paling menjengkelkan adalah ketika babi-babi itu lepas dari kandang. Tidak jarang babi-babi itu masuk ke rumah-rumah orang. Jika ada babi yang lepas, ayah saya akan mengajak saya untuk menangkap kembali babi-babi itu. Dan itu bukan pekerjaan yang mudah. Babi-babi itu sering lepas dan masuk ke kandang babi milik tetangga, sehingga semakin sulit untuk mengidentifikasi mana babi milik saya dan mana babi milik tetangga. Tentu saja karena kesamaan rupa. Belakangan karena terlalu sering lepas, ayah saya memberi label nama dengan jahitan di tubuh babi-babi yang menandakan pemiliknya. Tetangga-tetangga saya juga melakukan hal yang sama, walaupun dengan cara yang berbeda.
Begitu berhasil ditangkap, saya mengendong babi tersebut kembali ke kandangnya. Mengendong babipun tidak mudah, karena babi-babi itu biasanya memberontak dan baunya sangat menusuk. Namun saya selalu gembira bila berhasil menangkap dan menggendongnya. Sambil mengendong babi tersebut, biasanya saya sering membayangkan diri bagaikan Yesus yang mengendong domba yang tersesat, seperti yang diceritakan oleh guru sekolah minggu saya.
Di kampung saya dulu ada seorang mantri kesehatan yang bertugas untuk memeriksa kesehatan binatang-binatang peliharaan, menyuntik hewan supaya beranak, dan juga termasuk mengebiri kambing, sapi, maupun babi-babi. Babi-babi perlu dikebiri untuk mendapatkan pertumbuhan badan yang maksimal sehingga laku dijual. Karena sering menyuntik babi-babi agar beranak, orang-orang kampung sering berkelakar bahwa anak-anak babi yang dilahirkan sejatinya adalah anak-anaknya sang mantri.
Namun ternyata ayah saya tidaklah terlalu berbakat untuk memelihara babi. Usaha itu hanya bertahan dua tahun saja dan tidak berkembang. Namun itu sudah cukup memberikan pengalaman hidup yang menarik di masa kecil saya.
Ayah saya sebenarnya lebih dikenal sebagai orang yang bertangan dingin dalam urusan tanam-menanam. Segala jenis tanaman yang dipelihara oleh ayah saya selalu tumbuh subur dan berbuah dengan baik. Karena lelah dengan berbagai usaha untuk mencoba beternak hewan, ayah sayapun menekuni kegiatan tanam-menanam.
Di rumah saya banyak ditanam pohon-pohon dan buah-buahan yang tumbuh dengan baik. Ketika harus pindah rumah karena kebutuhan ekonomi, ayah saya menanam berbagai jenis tumbuh-tumbuhan di rumah yang baru. Dan sekarang kalau saya pulang ke kampung, saya bisa melihat hasil ketekunan ayah saya dan menikmati rimbunnya pohon yang menaungi rumah kami.












Wah, semakin lengkap gambaranku tentang dirimu, Git. Kapan kopdar di Yogya? Ajak Ben ya? Salam!
wah…asyik juga ya piara bagong.
pengen juga nih piara, cuma blm ada tempat yg cocok.
wah sangat menarik mas…
kalau dikat2kan ceritanya irip pengalaman kecil saya. Bedanya yg saya perlihara kambing dan sapi….
Salam kenal
wah persis seperti pengalaman ku masa kecil bedanya makanan babinya kangkung dan lompong yang dimasak lalu dicampur dedak , tapi kini ya kok banyak yang keberatan mendemo kandang2 babi itu padahal yang bantu kasih makan yaitu saudara yang haram bila makan daging babi itu.