Fitna dan Toleransi

Oleh: Sigit B. Darmawan 

Film dokumenter Fitna yang dibuat oleh seorang anggota parlemen Belanda, Geert Wilders telah membangkitkan kecaman luar biasa dari berbagai negara. Kecaman itu muncul karena film itu dinilai telah merendahkan agama Islam dan bersifat anti-Islam. Geert sendiri menjelaskan bahwa melalui film itu ia ingin menunjukkan elemen kekerasan dan fasis dalam iman agama Islam.

Beberapa negara sudah memboikot peredaran film tersebut, termasuk peredaran melalui internet. Bahkan Amerikapun membekukan sebuah situs yang digunakan untuk mengkampanyekan film Fitna tersebut,  untuk meredam kemarahan komunitas umat Islam dan mengurangi ketegangan hubungan antar komunitas Islam dan Barat

Pemerintah Indonesia bereaksi dengan melarang peredaran film tersebut, termasuk peredarannya di YouTube. Bahkan pemerintah sudah menyurati pengelola situs YouTube untuk membuang versi pendek film tersebut dari situsnya, dengan sanksi akan memblokir akses pengguna internet Indonesia terhadap situs YouTube jika peringatannya tidak diindahkan.

Munculnya film fitna — yang dalam bahasa Arab berarti chaos atau kekerasan sipil– memang berpotensi membangkitkan kembali ketegangan hubungan Islam-Barat pasca peristiwa 9/11. Beberapa negara Eropa sudah menegaskan bahwa film Fitna tersebut bukan mewakili pandangan Barat dalam melihat eksistensi komunitas Islam. Walaupun masih ada praduga negatif dan kecurigaan negara Barat terhadap komunitas Muslim, namun sebenarnya negara Barat sudah mulai positif terhadap berbagai kebudayaan yang berbeda-beda, termasuk kebudayaan Islam.

Fenomena seorang Wilders ini menunjukkan rasa tak aman terhadap serbuan budaya dan nilai dari luar yang masuk ke negara-negara Eropa. Widlers sendiri menjelaskan alasannya munculnya film Fitna tersebut adalah karena untuk membendung masyarakat Eropa terhadap serbuan ideologi islam dan mempertahankan budaya pencerahan. Sebuah penjelasan yang harus dipertanyakan, karena sejarah budaya pencerahan yang muncul di Eropa sendiri juga banyak dipengaruhi oleh filsuf-filsuf dari berbagai negara, termasuk filsuf dari kalangan Islam.

Namun provokasi Wilders ini telah menimbulkan kegelisahan yang luar biasa bagi komunitas Islam dunia yang merasa tersudut dengan berbagai citra dan penggambaran yang negatif dalam film tersebut. Dalam konteks hubungan antar masyarakat beragama di dunia, provokasi ini berpotensi untuk munculnya tindakan serupa yang makin mengeruhkan hubungan islam-barat dan hubungan antar umat beragama di dunia.

Karena itu sangat tepat Dewan Hak Asasi Manusia PBB mengeluarkan resolusi yang mengecam penggunaan media untuk mengobarkan aksi kekerasan, ketakutan, atau sikap tidak toleran yang terkait dengan diskriminasi terhadap Islam dan agama-agama lain di dunia. Juga tentang keprihatinan terhadap upaya untuk mengindentifikasi Islam dengan terorisme dan kekerasan.

Wajah kekerasan teroris yang mengatasnamakan agama sering sesungguhnya hanya bungkus dari sebuah ideologi geopolitik untuk mewujudkan agenda politik dari kelompok-kelompok tertentu. Wajah sesungguhnya dari agama-agama tersebut: tentang cinta kasih dan penghargaan atas kehidupan manusia: seringkali terabaikan oleh tindakan kekerasan oleh sekelompok kecil penganut fanatik dalam agama tersebut. Dan hal ini terjadi juga di agama-agama lainnya. Pemahaman yang sempit tentang iman dan doktrin, membuat orang tidak mampu melihat keberagaman agama-agama di dunia dan memberikan penghargaan terhadap keberagaman tersebut.

Sikap toleransi adalah upaya untuk melihat keberagaman tersebut, tanpa mengabaikan eksklusivitas iman masing-masing agama. Titik temunya adalah bagaimana agama memandang manusia dalam perspektif yang sama, dengan segala hak-hak manusia yang harus diakui dan dihargai sebagai nilai yang universal dalam kehidupan umat manusia.

Toleransi Agama di Indonesia

Sikap pemerintah Indonesia yang melarang peredaran film Fitna di Indonesia di satu sisi bisa dipahami. Sejalan dengan pandangan negara-negara lain yang menyesalkan munculnya film yang bertujuan mendeskreditkan agama Islam tersebut, maka pemerintah memang perlu mengirimkan nota protes dan keberatan kepada Geert Wilders. Pemerintah Belanda sendiri menegaskan apa yang disampaikan dalam film tersebut bukan mewakili pandangan negara Belanda dalam melihat Islam dan budayanya.

Namun sikap pemerintah tetaplah harus dalam kewajaran, sehingga tidak perlu dilakukan proteksi yang berlebihan apalagi sampai memblokir situs YouTube yang memasang film fitna versi pendek tersebut di situsnya. Upaya yang harus dilakukan oleh Pemerintah dan kalangan umat beragama adalah justru memberikan ruang dialog yang lebih terbuka bagi masyarakat beragama untuk mampu mengembangkan sikap toleransi dalam keberagaman di Indonesia.

Selain itu pemerintah perlu mendorong kerjasama umat beragama dalam meningkatkan upaya-upaya penghargaan atas hak-hak asasi manusia, kesejahteraan hidup masyarakat, dan keadilan. Ini kunci dalam mengembangkan toleransi beragama. Upaya untuk mencari isu-isu tentang kemanusiaan adalah penting dalam mengembangkan kesepahaman antar umat beragama. Selain itu upaya politisasi agama harus dihentikan, supaya agama tidak didomplengi oleh berbagai kepentingan politik yang bersifat sektarian.

Sejarah membangun toleransi umat beragama di Indonesia memang harus melalui jalan terjal. Dalam berbagai kurun waktu sejak Indonesia berdiri, kita sering berhadapan dengan berbagai isu SARA yang memicu konflik sosial dan politik  yang memakan ongkos sosial budaya yang sangat besar. Sudah saatnya kita membangun toleransi masyarakat atas dasar sebuah kebutuhan untuk membangun Indonesia yang plural, dimana semua potensi yang dimiliki masyarakat diberdayakan untuk membangun kesejahteraan bersama.

Membangun toleransi berarti mengakui eksklusivitas iman setiap umat beragama, menghargai perbedaan, dan mengusahakan dialog yang mengedepankan kebersamaan dan nilai-nilai universal yang diakui bersama untuk sebuah tujuan: membangun masyarakat dimana hak-hak manusia dihargai dan dijunjung tinggi, keadilan dan kesejahteraan masyarakat diutamakan. Memang tidak mudah, namun harus diupayakan terus-menerus.

About these ads

5 responses to “Fitna dan Toleransi

  1. assalamu’alaikum
    saya terima kasih kepada pa darmawan….
    setelah saya baca artikel bapak, sangat terkutuk sekali orang yang telah membuat film dokumenter FITNA

  2. wah..!! bagaimana sikap presiden SBY dengan adanya dampak2 yg luar biasa terhadap pemunculan film FITNA?

  3. Akh, pemeluk agama Islam fanatik “mentel kali”. Macam anak-anak balita. sedikit tak terpuaskan lalu cengeng. Itu kan bukti dari iman yang lemah. Mempermalukan agama sendiri. Perlu kiranya mereka belajar menyadari dengan otak dan hati terbuka.

  4. Sebenarnya di blocking juga kurang efektif malah menjadikan kita-kita penasaran. Toh film itu intinya justru menunjukkan ketakutan Barat terhadap perkembangan Islam di sana. Dimana terjadi peningkatan konversi agama, beralih ke Islam di Barat.

  5. Begitu topeng islam terbukah, dunia islam seperti cacing kepanasan dan memang saya yakin dan telah mengatahui kerekter manusia islam gak tahan dengan kritikan, sama seperti nabinya tingkah laku mereka sama. Muhammad gak tahan dengan kritikan seorang kakek tua membuat syair kritikan pada Muhammad dan Muhammad memerintakan sikakek tua itu harus dipengkal lehernya.

    Nabi dan pengikut sama gak tahan kritikan, karena kehidupan mereka selalu dalam kebohongan, begitu kebohongan dipaluh dengan kebenaran…?muncul ketakutanan karena dasarnya agama ini terbentuk dalam kebohongan dan kebohongan itu tetap dipertahankan.

    Beriman tanpa rasa takut untuk menegakkan kebohongan islam haru melalui jalur anarkis, ini islam yang kita lihat dimana-mana.

    Kita bisa lihat dimata kita, Syiah dan sunnih saling adu otot dan saling membunuh ketimbang pakai otak..?
    ambil aja jalur tol….lawan….lawan…darah sesamu muslim halal, kebenarannya islam sekarang sangat diragukan. Karena dari permulaannya aja sudah salah,
    karena islam agama ciptaan manusia Arab otaknya Muhammad dipakai ambil jalan singkat seperti Muhammad pemimpin geng perampokan di Khaybar dan akhirnya dia kaya dengan hasil rampasan Yahudi dan budak tawanan perang dijadikan pesta sek oleh nabi cabul Muhammad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s