Sigit Budi Darmawan

Belajar Tentang Kegagalan

November 23, 2007 · 3 Comments

“Pa, kalau Tata nggak menang lombanya, Tata tidak apa-apa kok,” kata anak saya sebelum mengikuti lomba menggambar Global Art se-Indonesia beberapa hari yang lalu. Saya hanya tersenyum, seraya teringat pengalaman beberapa saat lalu ketika anak saya pernah menangis karena kalah dalam lomba yang sama. “Jangan lupa berdoa ya, sebelum mulai lomba. Supaya Tuhan beri kesabaran kepada Tata untuk selesaikan tugasnya itu,” kata saya. Ia mengangguk. Kemudian iapun masuk di arena lomba. Saya hanya melambaikan tangan, dan kemudian meninggalkan arena lomba. Ia terbiasa untuk tidak didampingi (tepatnya tidak mau dilihat) kalau ada lomba atau aktivitas lainnya.

Lomba itu berlangsung hampir lebih dari 2 jam. Dan karena hari sudah sore, saya bermaksud mengajaknya pulang karena  jarak tempat lomba dengan rumah yang cukup jauh. Namun anak saya bersikeras untuk tidak mau pulang, karena satu alasan: ingin mendengar pengumuman pemenangnya. Untuk sesaat saya gelisah, karena saya takut anak saya kecewa jika tidak berhasil meraih kemenangan. Walaupun anak saya sudah menegaskan bahwa ia tidak akan kecewa jika tidak berhasil menang, namun saya tetap masih gelisah. Hari ini kepercayaan diri anak saya sangat tinggi. Berkali-kali ia mengatakan bahwa ia telah melakukan tugasnya dengan baik, dan menurutnya hasil gambarnya sangat bagus. Semakin gelisahlah saya, karena kuatir akan harapan dan realita yang akan dihadapi anak saya berbeda.

Ketika tiba waktunya untuk pengumuman pemenang, kegelisahan saya memuncak. Satu-persatu pemenang setiap kategori dibacakan, namun nama anak saya tidak kunjung disebut. Saya perhatikan wajah anak saya, ada kekecewaan terpancar disana. ”Tata tadi gambarnya bagus”, kata anak saya dengan lirih.  Saya dekap erat anak saya, tanpa mengucapkan sepatah katapun.  Saya terharu, karena anak saya tidak mengeluarkan air mata, kendati kecewa dengan hasilnya. Saya ajak dia keluar,  dan sambil berjalan saya ajak berbincang-bincang tentang: ketelatenan, ketekunan, dan kesabaran yang membuat teman-temannya mampu meraih keberhasilan.

“Oh..jadi Tata harus lebih tekun lagi ya pa?”, katanya. “Papa mau gak temenin dan bantu tata. Supaya tata bisa lebih rajin lagi belajarnya?”, lanjutnya. Saya mengangguk. Hari ini anak saya telah berhasil melewati masa sulit. Ia telah mulai belajar tentang sebuah kegagalan dan meresponinya dengan tepat. 

“Kegagalan adalah langkah yang tertunda menuju keberhasilan”, kata sebuah peribahasa. Yang dibutuhkan adalah sikap positif, hati yang mau belajar, dan kemauan untuk memperbaiki. Hidup itu suatu proses yang melewati kesalahan demi kesalahan, ketololan demi ketololan. Namun perlu upaya yang keras dan teguh untuk melewatinya. Terbuka kepada kritikan dan masukan adalah kunci dalam proses perbaikan tersebut. Itulah makna perbaikan yang berkelanjutan.

Categories: Personal
Tagged: ,

3 responses so far ↓

  • Mariani Sutanto // November 23, 2007 at 3:10 pm | Reply

    Tata, selamet ya. Walopun nggak menang, tapi Tata menang melawan diri sendiri. Itu yang paling sulit. Tante Ian yakin Tata bakal jadi orang arif bijaksana kelak. Cheers…:)

  • Jason // December 10, 2007 at 7:24 am | Reply

    Mas Sigit, salut karena sudah belajar untuk mengajar anak menerima kegagalan sebagai sebuah proses belajar hidup. Tidak mudah, karena kita sebagai orang dewasapun sering menyalahkan orang atau faktor lain dibalik kegagalan. Tapi itulah proses menuju kesuksesan. Salam kontemplasi!

  • wijaya kusumah // January 20, 2008 at 3:37 am | Reply

    Jangan takut untuk gagal dan jangan takut untuk berbuat kesalahan.
    “Kesalahan kita butuhkan untuk hasil yang lebih baik, karena timbulnya kesalahan adalah tanda diperlukannya cara-cara yang lebih baik. Membuat kesalahan dan bahkan gagal dalam melakukan sesuatu yang berguna, adalah lebih baik daripada tidak pernah salah karena tidak melakukan apapun”.
    Selamat mas, anda telah mendidik anak dengan benar

Leave a Comment